PLN Wilayah Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo

Energy Company

Media Informasi
PT PLN (Persero) Wilayah Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo


Media Komunikasi dan Informasi
PT PLN (Persero) Wilayah Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo

Untuk Pelayanan Pelanggan seperti Gangguan, Laporan gangguan, Pelayanan teknik dan lain-lain silahkan menghubungi:
Tel: (kode area) 123
Twitter: @pln123
Fb: pln123

1:22
Salurkan Bantuan Ke Desa Pombewe - Sigi, PLN Rasakan Energi Optimisme Warga Warga Desa Jonoge masih tinggal di tempat pengungsian yang terletak di tanah lapang desa Pombewe saat PLN menyerahkan bantuan berupa bahan makanan pokok seperti beras, mie instan, air mineral, sayuran, serta pakaian, peralatan mandi, peralatan sholat, terpal, obat-obatan, popok bayi hingga selimut. Desa Jonoge merupakan satu dari beberapa desa yang tenggelam akibat fenomena likuifaksi, yaitu tanah yang kehilangan kekuatan akibat adanya gempa bumi yang melanda Palu dua pekan lalu, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cair, hal ini yang menyebabkan warga desa Jonoge mengungsi ke tanah lapang di daerah desa Pombewe Sebanyak 1000 jiwa atau sekitar 300 KK terdampak gempa dan likuifaksi menyebabkan warga tidak memiliki tempat tinggal, sehingga harus mengungsi di tanah lapang dengan mendirikan tenda-tenda darurat. Bantuan sebanyak dua truk diserahkan langsung oleh Asman PAD PLN UP3 Palu, Tajom Togatorop kepada kepala desa Pombewe, Darius Tondje hari ini (Rabu, 17/10). Warga desa Pombewe antusias untuk menerima bantuan yang diberikan PLN, hal ini tergambar dari semangat warga dalam gotong royong untuk menurunkan bantuan dari truk. “Saya sebagai kepala desa merasa senang karena sudah diberikan bantuan warga kami, dan kami sangat berterima kasih sebanyak-banyaknya pada PLN atas bantuannya, bisa kita lihat warga sangat antusias dalam menurunkan bantuan yang diberikan” ungkap Darius. Ditengah kesulitan yang dihadapi warga desa Jonoge, energi optimisme selalu ada di hati mereka untuk bangkit kembali, bahwa badai pasti berlalu dan pertolongan akan selalu ada. Hal tersebut tergambar dari penuturan wanita paruh baya, Rachel yang merupakan salah satu pengungsi warga desa Jonoge. “Mau bilang sedih, tidak juga, karena kami bersyukur ada Tuhan yang mengirimkan tangan-tangan untuk menolong kami disini, kami merasakan suka cita kebahagiaan atas pertolongan yang diberikan”, cakap Rachel Layaknya semangat optimisme warga desa Pumbewe, PLN akan terus bekerja untuk memulihkan jaringan listrik hingga ke pelanggan, sehingga Palu, Sigi dan Donggala bisa segera menata dan membangun kembali kotanya.
5 months ago
2:51
Semangat Rendra Untuk Mutiara di Khatulistiwa Rendra (35) tak pernah mengira, pekerjaan mengantarkan tim pemeriksaan instalasi listrik di lokasi Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) jumat siang (28/9) di sepanjang Pesisir Pantai Kota Palu menjadi kali terakhir dirinya menyaksikan keindahan Anjungan Teluk Palu. Anjungan yang sejatinya akan digunakan untuk pelaksanaan FPPN ke-3 tersebut, kini tinggal kenangan. Reruntuhan bangunan di sepanjang bibir pantai Kota yang pada tahun 2016 diperkenalkan sebagai Mutiara di Khatulistiwa itu menjadi saksi bisu dahsyatnya sapuan tsunami yang muncul setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,4. Sehari-hari, Rendra bekerja menjadi sopir di PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu. Pekerjaannya mengantarkan petugas PLN bekerja di lapangan. Sebagai seorang sopir, ribuan kilometer telah ia lewati saat melayani petugas PLN. Suratan takdir Rendra tak dapat dielakkan. Ia menjadi salah satu korban bencana gempa dan tsunami. Ia, anak dan istrinya memang selamat. Namun rumahnya di Perumnas Balaroa ‘ditelan bumi’ karena dampak likuifaksi. Bahkan atapnya bergeser sepanjang 700 meter dari lokasi semula. Malang tak boleh ditolak, mujur tak boleh diraih. Ia semakin sedih saat mengetahui kakak, adik dan iparnya meninggal diterjang tsunami saat berjualan minuman di Anjungan Teluk Palu. “Sehari setelah tsunami, saya menemukan adik saya terkulai di bibir pantai. Sekujur tubuhnya penuh luka. Tak sampai hati saya melihatnya. Nyawanya tak tertolong. Sedangkan kakak dan ipar saya sampai sekarang tak juga ditemukan,” katanya. Empat hari paska gempa, ia mencoba mencari saudaranya, hasilnya tetap hampa. Mau tak mau ia harus berdamai dengan kehilangan dan kesedihan. Ia sadar semua itu sudah suratan takdir yang tak bisa ia elakkan. Ia pun memutuskan untuk kembali bekerja, walaupun harus mengungsikan anak dan istrinya di rumah saudaranya. “Saya memang hanya seorang sopir, namun saya ingin berkontribusi bagi PLN. Saya ingin tetap berguna membantu petugas PLN menerangi Palu. Saya ingin menghibur diri dengan bekerja. Saya siap membantu apapun,” katanya. Tak terhitung berapa kali ia menjemput ratusan relawan PLN yang hadir ke Palu. Melayani petugas menuju lokasi perbaikan. Membantu mengantar bantuan kemanusiaan kepada pengungsi sampai menyiapkan mobil agar siap untuk digunakan pada hari berikutnya. Rendra mungkin bukan petugas teknik yang bisa memperbaiki tiang yang roboh atau kabel listrik yang terkoyak. Namun semangatnya untuk menjadi manusia bermanfaat lebih tinggi dari rasa kehilangannya. Dia ingin membantu kota kelahirannya, Palu untuk kembali bangkit. Baginya, PLN merupakan keluarga besarnya. Ia memiliki beban moral untuk membantu Palu kembali terang, walaupun ia sendiri merupakan korban bencana gempa dan tsunami. Sekecil apapun kontribusinya, sebagai putra Palu, ia ingin menyumbangkan tenaganya. Saat ini ia tetap bersyukur masih dikaruniai umur dan kesehatan. Kelak ia ingin anak semata wayangnya, Alfia (3 bulan) tahu dan bangga bahwa ayahnya menjadi orang yang bermanfaat bagi kota Palu.
5 months ago
1:26
Satu Bola Lampu, Sejuta Harapan Kota Palu “Satu bola lampu yang menyala memberi harapan sejuta pedagang di kota Palu” Kalimat diatas meluncur dari Simpra Tajang (51), pemilik Unity Cafe and Coffee di Jalan Basuki Rahmat No 49, Palu, Sulawesi Tengah untuk menggambarkan besarnya manfaat listrik paska bencana gempa dan tsunami di Palu. Mengenang kembali detik-detik bencana yang memilukan itu, Simpra bertutur, dia dan pegawainya sedang sibuk melayani pesanan minuman dan makanan tamu. Tiba-tiba goncangan terjadi begitu keras. Pengunjung berlarian keluar. Meja, peralatan dapur dan etalasenya berjatuhan. Seketika suasana semakin mencekam saat listrik tiba-tiba padam. “Listrik padam, kota kami gelap gulita, kepanikan melanda, kekhawatiran akan keamanan dirasakan semua orang,” jelasnya. Simpra cukup beruntung, cafe miliknya tidak mengalami kerusakan serius. Yang terlihat hanya retak rambut pada tembok, hanya pagar samping sepanjang 20 meter yang roboh, selebihnya semuanya masih dalam keadaan baik. Selama listrik padam, ia dan keluarganya mendirikan tenda di halaman cafe. Selain masih adanya trauma, ia juga ingin memastikan semua fasilitas dan sarana usahanya dalam keadaan aman. Tiga hari pertama saat listrik masih padam. Optimisme hidup Simpra sempat surut. Di benaknya harapan mulai memudar. Apalagi usaha cafe merupakan tumpuan keluarganya mengais nafkah di Palu. Suatu waktu ia berkeliling kota palu menggunakan sepede motor, disetiap sudut kota ia melihat sendiri petugas PLN sibuk memperbaiki jaringan listrik. Dalam hati, Simpra berharap PLN bisa secepatnya menyalakan kembali listrik. “PLN cepat sekali responnya, saya ingat hari ke-6 paska gempa, daerah Basuki Rahmat listrik sudah menyala. Betapa senang perasaan saya, bagi pengusaha kuliner seperti saya ini, rasanya sendi kehidupan mulai bangkit kembali,” katanya. Empat pegawai Simpra masih diliputi trauma, keempatnya belum dapat kembali bekerja. Simpra memutuskan tetap membuka usaha kulinernya dibantu adik laki-lakinya. Hari pertama listrik menyala, cafenya buka kembali. Pengunjung mulai berdatangan. Saat itu kebanyakan relawan yang datang. “Dibalik musibah yang terjadi, Tuhan juga memberikan rezeki yang luar biasa. Semenjak listrik kembali menyala, cafe saya tak pernah sepi pengunjung. Optimisme saya menjulang. Saya yakin warga Palu lainnya juga merasakan hal yang sama,” katanya. Simpra mencoba membayangkan apabila listrik dari PLN tak kunjung menyala. Ia tak mungkin menggunakan genset untuk usaha. Ia sadar akan lebih mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli minyak. “Lebih dua pekan sudah paska gempa. Palu kembali terang. Kehidupan berangsur normal. PLN tidak hanya memberi warga Palu penerangan. PLN memberi kami optimisme untuk kembali bangkit,” katanya. Sembari mengantarkan pesanan pengunjung, Simpra sempat mengucapkan terima kasih kepada Dirut PLN, yang dengan sigap mengirimkan lebih dari seribu relawan PLN dari seluruh Indonesia untuk menerangi Palu.
5 months ago
1:00
PLN RAMADAN 2018
10 months ago